Wawancara

Berbincang Dengan Anggota DPR Komisi IX, Fraksi PPP, Okky Asokawati

Wawancara|Senin 15 Desember 2014 23:02 WIB

berbincang dengan anggota dpr komisi ix fraksi ppp okky asokawati

Meski sehabis membagi seminar pada ibu-ibu Indonesia di kota Sydney, ibu Okky Asokawati masih terlihat bersemangat saat di-interview oleh penulis. Sebagai anggota DPR Komisi IX yang berhubungan dengan ranah kesehatan, ibu Okky mengulas sejumlah permasalahan yang tengah terjadi di Indonesia, mulai dari penolakannya terhadap Pekan Kondom Nasional, serta menyayangkan mogok nasional dokter sebagai tindakan yang semakin menyudutkan dokter sendiri.

Meski sehabis membagi seminar pada ibu-ibu Indonesia di kota Sydney, ibu Okky Asokawati masih terlihat bersemangat saat di-interview oleh penulis. Sebagai anggota DPR Komisi IX yang berhubungan dengan ranah kesehatan, ibu Okky mengulas sejumlah permasalahan yang tengah terjadi di Indonesia, mulai dari penolakannya terhadap Pekan Kondom Nasional, serta menyayangkan mogok nasional dokter sebagai tindakan yang semakin menyudutkan dokter sendiri.

Selain membagikan ekspetasi kans partai-nya (PPP) untuk Pemilu tahun depan. Ibu Okky menegaskan pula bahwa PPP juga pantas disebut Partai Nasionalis meski memiliki tagline “Kembali ke Kittah Rumah Besar Umat Islam.” Kenapa? Simak dibawah ini.

1. Mengapa Seorang Anggota DPR Bisa Berada di Sydney?

“Saya datang atas undangan IDF (International Diabeters Federation),” ujarnya. Beliau baru-baru ini menghadiri World Diabetes Congress di Melbourne. Mengapa undangan ini sangat penting bagi ibu Okky?

Politisi PPP itu menjelaskan bahwa Indonesia salah satu negara penderita diabet tertinggi didunia. “Kita ini peringkat-7 di dunia,” ucapnya. Ibu Okky sempat mengingatkan pentingnya makan sehat seperti yang diajarkan Hadits.

“Makan itu ada Haditsnya. Berhentilah makan sebelum kenyang…bukan berhentilah makan sesudah nendang,” ujarnya. Namun, beliau tidak merinci lebih jauh apakah ada semacam eksekusi pembuatan RUU mengenai penangkalan diabetes sepulangnya dari Australia.

2. Mengapa Bisa Berubah Haluan Dari Modelling ke Politik

“Sebenarnya tidak ada rencana jadi anggota DPR, cuma Tuhan berkehendak lain. Tahun 2009, saya diminta jadi caleg perempuan oleh PPP, karena UU Pemilu menegaskan quota 30% caleg perempuan untuk tiap partai,” ucapnya.

Ibu Okky menyebut bahwa salah satu alasan mengapa ia memutuskan politik juga karena keprihatinan akan sedikitnya orang yang mau bersuara untuk wanita. “Perempuan dibutuhkan Parlemen. Contoh ketika membahas ASI, yang semangat perempuan, yang laki mana ada yang datang?” ucapnya.

3. Mogok Nasional Dokter Justru Hancurkan Kredibilitas Dokter Sendiri

“Saya melihat dokter, profesi yang punya kedudukan sama di mata hukum. Kalau memang mau solidaritas, lakukanlah dengan sophisticated lah,” ucap Okky. Beliau melihat, aksi mogok ini justru semakin melemahkan kredibilitas dokter di hadapan publik.

“Sekarang akhirnya masyarakat menilai dokter suatu profesi yang Playing God (kebal hukum),” tambahnya.

4. Bagi Kondom Tak Salah, Asalkan…..

Ibu Okky menolak Pekan Kondom Nasional karena pembagian itu dilakukan di lingkungan sekolah. Menurut beliau, sekolah adalah lingkungan bebas “kenakalan.” Alangkah baiknya bila pemberian kondom dilakukan di daerah “nakal” seperti lokalisasi.

“Artinya kondom itu tetap harus diberikan kepada daerah-daerah nakal, ya bukan sekolah lah. Tapi yang banyak PSK-PSK-nya, jadi dilokalisir,” ucapnya. Untuk solusi, ibu Okky menyebut “edukasi dan diskusi” sebagai yang terpenting.

5. Parpol Islam Masih Dapat Berjaya di Pemilu 2014

Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Burchanuddin Muhtadi pada tahun 2012 menyebutkan kepercayaan masyarakat semakin menurun terhadap Parpol berbasis agama, khususnya Islam. Majalah Tempo mencatat, survey yang diadakan pada bulan Juli-Agustus 2013 oleh Alvara Riset menunjukkan bahwa Parpol Islam tidak ada yang sanggup mencapai 5 besar. Tingkat elektabilitas PPP hanya sebesar 2.2 %. Apa yang mendasari sinisme masyarakat terhadap partai yang berbasis agama?

Okky: Pada tahun 2009 kemarin, kami mencapai 6,5%, ya kami sadari perjuangan akan lebih keras terutama kami tahu ada banyak survey pesanan dan dilakukan dengan niat tak baik. Kami berharap PPP bisa mencapai kejayaan pada masa Orde Baru.

Alangkah lebih baik bila kita tidak mendikotomikan Partai Islam dan Partai Nasionalis. Bagaimanapun juga Partai Islam juga pasti nasionalis. Kita bukan negara Islam dan perlu menghormati semua keyakinan.

6. Kita Tidak Punya Partai Kesukuan (Partai Batak, Partai Madura…), Tapi Kenapa Kita Harus Punya Partai Agama?

Penulis: Anda sebut PPP Partai Nasionalis, Apa itu artinya PPP juga berfokus mendulang suara dari kantong non-Muslim juga?

Okky: Oh tidak, kalau PPP tagline kami adalah rumah besar umat Islam . Jadi siapapun umat Islam itu tidak harus kerudung. Pake anting-anting juga boleh. Pake mini boleh, pake celana pendek boleh.

Penulis: Kalau dipikir-pikir, hingga saat ini, kita tidak punya partai kesukuan. Tentu supaya untuk menghindari disintegrasi bangsa. Namun kenapaninche market” dalam bentuk parpol berbasis agama ada dan perlu dipertahankan?

Okky mengakui belum ada kejelasan dalam sistem perpartaian di Indonesia. Menurutnya, mempertanyakan eksistensi Parpol agama, sama saja dengan mempertanyakan Parpol nasionalis yang disebutnya lahir belakangan ketimbang Parpol agama.

Okky: Perlu dilihat sejarah kepartaian Republik ini. Menurut saya politik perpartaian kita masih mencari bentuk. Soal istilah partai nasionalis, itu adanya juga baru-baru ini pas Demokrat naik daun. Ini merupakan bagian proses pendewasaan bernegara dan berpartai (AH/Kompasiana).

Tulis Komentar Anda

21 + 83

Quote

Kasus lelang keperawanan dan jasa nikah siri merupakan tindakan yang jauh dari peradaban kemanusiaan. Dalam kasus tersebut, perempuan menjadi obyek penderita, perempuan menjadi korban dan perempuan menjadi komoditas

- Okky Asokawati
Langganan Newsletter

Video

okky.asokawati.52
Find Us On Facebook
@AsokawatiOkky
Find Us On Twitter
©2014 okkyasokawati.com. All Rights Reserved.